Areal Padi Roboh di Pamekasan Meluas

PAMEKASAN – Tanaman padi yang roboh akibat angin kencang di Pamekasan, Madura, dalam tiga hari terakhir ini kian meluas.

Suparman (39) warga Pademawu, Pamekasan mengatakan, sebelumnya tanaman padinya roboh hanya sekitar seperempat hektare, akan tetapi hingga kini sudah mencapai 1 hektare lebih.

“Selain angin kencang, hujan lebat juga kan sering dalam tiga hari ini. Akibatnya tanaman padi kami makin banyak yang roboh,” ucap Suparman, Kamis (15/3/2012).

Di wilayah Kecamatan Pademawu saja, tanaman padi petani yang sudah siap panen dan roboh akibat angin kencang diperkirakan mencapai ratusan hektare.

Demikian juga di wilayah Kecamatan Kota Pamekasan, seperti di Kelurahan Kangenan. Di wilayah itu, hampir semua tanaman padi di sepanjang jalan raya Pamekasan menuju Kabupaten Sumenep roboh akibat angin kencang.

Menurut salah seorang petani di Kelurahan Kangenan Ismail, awalnya tanaman padi milik yang roboh akibat angin kencang hanya sebagian saja, akan tetapi saat ini hampir semuanya roboh. “Jika angin kencang tetap berlangsung, kemungkinan tanaman padi milik petani yang roboh sini akan lebih banyak lagi,” kata dia.

Angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Pamekasan dalam tiga hari terakhir tidak hanya merobohkan tanaman padi, akan tetapi juga sejumlah rumah warga.

Berdasarkan data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, dalam dua hari ini sudah tercatat sebanyak dua rumah warga rusak akibat angin kencang.

Seperti rumah Misna, warga Desa Larangan Dalam, Kecamatan Larangan dan rumah Juhairiyah warga Desa Sokalelah, Kecamatan Kadur. “Itu akibat angin kencang saja, belum termasuk yang diterjang angin puting beliung,” kata Kepala BPBD Pamekasan Basri Yulianto, Kamis malam.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Pertanian Pamekasan Isye Windarti, hasil produksi tanaman padi dalam kondisi normal di Pamekasan biasanya mencapai 6,3 ton per hektare. Tapi jika banyak tanaman yang roboh, kemungkinan hasilnya akan berkurang.

sumber : SuryaOnline

Panen Raya, Anggota DPR RI Disambati Petani

Jombang – Sejumlah petani yang ada di Dusun Grobokan Desa Karangpakis Kecamatan Kabuh, Jombang sambat ke anggota DPR RI, Hj Sadarestuwati. Hal itu terkait dengan penetapan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) yang masih jauh dari harapan. Sudah begitu, per 1 April mendatang, harga BBM (Bahan Bakar Minyak) mengalami kenaikan. Nah, petani semakin kelimpungan.

“Kami berharap agar HPP yang ditandatangani Presiden SBY, akhir Pebruari lalu dinaikkan. Harga beras Rp 6.600 per kilogram dan Gabah Kering Giling (GKG) Rp 4.200 per kilogram belum bisa memenuhi pendapatan petani. Kalau bisa ya dinaikkan,” ujar salah satu petani sambat kepada Sadarestuwati.

Menanggapi keluhan itu, anggota DPR RI dari dapil Jatim VIII (Kab/Kota Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun) ini mengatakan, melihat realitas di lapangan, sudah semestinya pemerintah melakukan pembahasan ulang atau melakukan revisi HPP tersebut. Pasalnya, kata Estu, pada saat penetapan HPP, pemerintah belum mempertimbangkan adanya kenaikan BBM. “Keluhan para petani akan kita usulkan ke pemerintah,” kata perempuan berkacamata ini.

Estu mengungkapkan, jika kondisi tersebut dibiarkan, maka nasib petani akan terpinggirkan. Hingga akhirnya, kesejahteraan petani tidak akan terkerek. Dia berpendapat, naiknya harga BBM secara otomatis akan diikuti naiknya harga saprodi. Sudah seharusnya, lanjut Estu, kenaikan harga gabah berimbang dengan kenaikan harga BBM.

Selain Sadarestuwati, panen raya tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Jombang, Widjono Soeparno dan Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Jombang, Sumrambah. Dalam kesempatan itu, Sumrambah mengatakan, pihaknya terus melakukan pendampingan terhadap Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Jombang. Semisal, memfasilitasi kemitraan antara Bulog dengan Gapoktan.

Dengan adanya kemitraan tersebut, Gapoktan bisa menjual hasil panennya secara langsung ke Bulog. Upaya itu dilakukan untuk memangkas rantai perdagangan hasil panen. Dia merinci, di Jombang sudah ada 26 Gapoktan yang telah melakukan MoU dengan Gapoktan. “Bahkan pengiriman gabah sudah mulai dilakukan,” ujar politisi asal PDI Perjuangan in

Sumber : Beritajatim.com

Panen Raya Padi, Harga Gabah Turun

Bojonegoro – Selama sepekan terakhir ini, harga gabah di Bojonegoro cenderung turun. Kondisi itu dipicu mulai berlangsungnya panen padi terutama di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo.

Menurut Purwanto (56), petani di Desa Mayangsari Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro mengatakan, harga gabah di tingkat petani saat ini berkisar Rp 3.000 per kilogram. “Dua hari lalu harga gabah hasil panen masih sekitar Rp 3.200 per kilogram,” ujarnya, Senin (20/2/2012).

Dipaparkannya, harga gabah hasil panen sebelumnya menyentuh Rp 4.000 per kilogram. Kemudian, harga gabah berangsur turun saat memasuki awal musim panen padi yaitu sekitar Rp 3.400 hingga Rp 3.300 per kilogram. Dan kini, harga gabah turun lagi di kisaran Rp 3.000 per kilogram.

“Turunnya harga gabah itu dipengaruhi mulai berlangsungnya musim panen padi di wilayah Bojonegoro di bantaran Bengawan Solo,” ujarnya.

Saat ini, tanaman padi di dekat Sungai Bengawan Solo yaitu di Kecamatan Padangan, Kalitidu, Dander, Trucuk, Balen, Kanor, dan Baureno mulai panen padi.

Saat ini, harga gabah di tingkat petani per kuintalnya berkisar Rp 43.000 hingga Rp 45.000. Sebelumnya, harga gabah per kuintal di tingkat petani berkisar Rp 50.000 hingga Rp 52.000. Banyaknya kandungan air pada bulir padi memengaruhi harga gabah itu.

Terpisah, Talim (56), pedagang gabah di Desa Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, musim panen padi mulai berlangsung sejak awal Februari hingga Maret mendatang.

Menurutnya, kualitas gabah hasil panen kali ini tergolong bagus bila dibandingkan dengan musim panen sebelumnya. Sebab, selama musim tanam hingga panen kali ini tidak terjadi banjir yang terlalu parah yang membuat tanaman padi membusuk atau rusak.

“Gabah dari Bojonegoro banyak dicari di luar daerah,” tuturnya.

Gabah hasil panen dari Bojonegoro kini banyak dikirim ke Lamongan, Jombang, Gresik, Madura, hingga ke Solo, Jawa Tengah. Pedagang banyak yang menebas gabah hasil panen langsung dari sawah lalu diangkut memakai truk dan dikirim ke luar daerah.

Sumber : Beritajatim.com

Petani Madiun Terpaksa Panen Dini

Madiun – Puluhah hektare tanaman padi di Desa Ngadirejo Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun terpaksa dipanen sebelum waktunya. Panen dilakukan setelah terserang hama santomonas atau potong leher sejak berusia 60 hari.

Salah satu petani desa setempat, Supadi, mengatakan, tanaman padinya baru berusia 80 hari sudah harus dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Karena sejak terserang hama santo monas taman padinya hanya berisi 1/3 dari normal.

“Sudah kena santomonas sejak usia 60 hari. Sekarang rata-rata dalam satu tangkai hanya ada 1/3 yang bulirnya berisi lainnya kopong (tidak ada beras) jadi terpaksa saya panen dulu,” ujarnya, saat memanen padi, Selasa (7/2/2012).

Supadi menjelaskan, jika normalnya padi baru dapat di panen saat berumur lebih dari 95 hari. Namun dengan adanya serangan hama tersebut, ia terpaksa memanen lebih dulu untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

“Saya terpaksa panen sekarang walaupun harga jualnya lebih murah jika dibanding padi usia tua. Karena saya takut kalau nunggu nanti justru padi saya kopong semuanya. Dan kalau normalnya satu kotak bisa panen sebanyak 3 kwintal lebih,” jelasnya.

Sudarno salah salah satu petani lainnya, juga mengeluhkan hal serupa. Bahkan ia sudah pernah melaporkan hal ini ke Dinas Pertanian Kabupaten Madiun. “Saya sudah lapor tapi sampai saat ini belum ada tindakan dari dinas,” ucapnya pendek.

Dengan adanya serangan hama santomonas ini para petani di wilayah Madiun mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. Pasalnya selain hasil panen yang menurun hingga 60 persen lebih juga dikarenakan harga jualnya yang turun akibat dipanen sebelum waktunya.

Sumber : Beritajatim.com

Banjir Bojonegoro Rendam 2 Ribu Ha Lahan Pertanian

Bojonegoro – Sekitar 2.802 hektar (ha) luas lahan pertanian di Kabupaten Bojonegoro yang terendam banjir. Tanaman hortikultural itu tersebar di 75 desa dari sembilan Kecamatan yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Ke 9 kecamatan itu diantaranya Balen, Kanor, Kapas, Baureno, Bojonegoro, Malo, Kalitidu, dan Dander.

Namun dari jumlah total tanaman yang terendam banjir tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, belum bisa memastikan luasan tanaman yang mengalami gagal panen. Namun dapat dipastikan jika tanam terendam air tiga hari lebih maka akan menjadi mudah busuk.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Bojonegoro, Agus Heryana menyatakan banjir luapan suangai Bengawan Solo hampir sepekan ini telah merendam tanaman seluas 2.802 ha. Rinciannya, seluas 2.532 ha berupa tanaman padi berumur antara berumur 20-40 hari setelah tanam dan sisanya tanaman jagung sebanyak 270 ha.

Dari tanaman yang terendam banjir, yaitu tanaman padi dan jagung. Untuk tanaman padi tersebar di 62 desa dan jagung berada di 13 desa dari tiga kecamatan. Di antaranya, di Kecamatan Malo, Kanor, dan Baureno.

Lanjut Haryana, jumlah tersebut bisa meningkat lagi jika air Bengawan Solo terus mengalami peningkatan. Hingga saat ini pihaknya belum memiliki data secara pasti berapa tanaman yang mengalami puso. “Kami baru bisa memastikan, kalau tanaman sudah terendam selama sepekan. Termasuk, angka kerugiannya,” jelasnya.

Sumber : Beritajatim.com