Pohuwato | Cakrawala Timur.com

Melansir dari Harian Kompas.com

Proyek pertambangan emas oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, ditargetkan beroperasi dalam hitungan bulan. Produksi emas yang pada puncaknya ditargetkan sebanyak 500.000 ounces per tahun itu diharapkan bakal mendukung peningkatan devisa Indonesia.

Saat ini, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melalui PT Bumi Suksesindo (BSI), anak usaha mereka, menambang emas di Tambang Emas Tujuh Bukit, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tambang emas sejak 2016 itu menggunakan metode pelindian (heap leach). Pada 2024, produksi sebanyak 115.867 ounces.

Sementara proyek Emas Pani nantinya akan menghasilkan produksi lebih besar daripada di Tujuh Bukit. Mengandung lebih dari 6,9 juta ounces emas, produksi emas akan dimulai bertahap. Namun, pada puncak produksinya, tambang itu diperkirakan menghasilkan hingga 500.000 ounces emas per tahun.

”Pada triwulan I-2025, progres konstruksi (Emas Pani) hampir 50 persen. Akhir tahun ini akan mulai menambang atau beroperasi. Sementara produksi emas pertama ditargetkan pada triwulan I-2026. Jadi, masih on track,” kata Head of Corporate Communications MDKA Tom Malik.

Tom menuturkan, proyek Pani diperkirakan akan menjadi tambang emas primer yang terbesar di Indonesia, bahkan di kawasan. Dari eksplorasi yang sudah dilakukan, umur cadangan tambang emas di daerah tersebut mencapai 20 tahun.

”Namun, kami juga melakukan eksplorasi lanjutan. Berdasarkan pengalaman, bisa ditemukan cadangan tambahan sehingga nantinya bisa memperpanjang usia tambang,” ujar Tom.

Dalam prosesnya, emas yang telah ditambang akan melalui proses peleburan hingga menjadi dore atau balok yang masih terkandung perak. Setelah itu, dore akan dibawa ke fasilitas pemurnian (precious metal refinery/PMR) milik PT Antam Tbk untuk dimurnikan menjadi logam mulia.

Pada triwulan I-2025, MDKA membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 502 juta dollar AS. Sebagian besar pendapatan ditopang bisnis emas dengan nilai penjualan mencapai 47 juta dollar AS. Relatif tingginya harga emas menjadi salah satu faktor pendorong raihan tersebut.

Tembaga dan nikel

Adapun proyek Emas Pani menjadi satu dari dua proyek utama MDKA ke depan. Proyek lain ialah Tembaga Tujuh Bukit di Banyuwangi, yang terletak di bawah tambang emas Tujuh Bukit (underground). Pada puncak produksinya, proyek itu diperkirakan bakal menghasilkan 110.000 ton tembaga dan 350.000 ounces emas per tahun selama lebih dari 30 tahun.

MDKA juga merupakan pemegang saham mayoritas PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang memiliki proyek tambang dan pabrik peleburan nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Perusahaan itu sedang mengembangkan pabrik high pressure acid leaching (HPAL) yang mengarah pada produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.

”Emas dan tembaga di bawah MDKA. Keduanya proyek besar kami. Sementara dalam proyek di MBMA juga sedang konstruksi. Proyek (nikel) tersebut bersama beberapa mitra asing,” kata Tom.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, sumber daya mineral grup MDKA per 31 Desember 2024 diperkirakan 36,9 juta ounces (Moz) emas; 8,6 juta ton tembaga; 90,3 Moz perak, dan 11,3 juta ton nikel. Cadangan bijih emas dan perak ialah 430 juta ton, yang mengandung 8,8 Moz emas dan 58 Moz perak.

Sementara cadangan bijih tembaga, yakni 310 juta ton, yang mengandung 1,9 juta ton tembaga. Adapun cadangan bijih nikel MBMA sebesar 375 juta ton basah dan 235 juta ton kering, yang mengandung 3 juta ton nikel.

Prospektif

Sebelumnya, pada Maret 2025, Presiden Prabowo Subianto meresmikan precious metal refinery milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur. Kehadiran pabrik pemurnian dengan kemampuan produksi 50 ton emas per tahun itu diharapkan menghasilkan devisa besar serta menyerap tenaga kerja

Berbeda dengan tambang emas primer, emas yang dihasilkan Freeport didapat dari lumpur anoda, yang merupakan produk sampingan dari pengolahan konsentrat tembaga. Lumpur anoda dimurnikan menjadi emas, perak batangan, dan platinum group metals.

Dari total kapasitas produksi 50 ton emas per tahun, pabrik dengan nilai investasi sebesar 630 juta dollar AS itu diperkirakan baru akan menghasilkan 32 ton emas pada 2025. Itu karena smelter sempat berhenti beroperasi. Kontrak sudah dilakukan PTFI dengan Antam yang akan menyerap 30 ton emas pada 2025.

Suasana di sekitar pabrik pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jawa Timur, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (17/3/2025). Pabrik itu memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ton emas per tahun. PT Antam Tbk akan menyerap 30 ton emas per tahun dari pabrik itu.

Suasana di sekitar pabrik pemurnian logam mulia PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jawa Timur, yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (17/3/2025). Pabrik itu memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ton emas per tahun. PT Antam Tbk akan menyerap 30 ton emas per tahun dari pabrik itu.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, dari pabrik pemurnian itu, industri hilir diharapkan terus tumbuh. ”Yang lebih penting ialah nilai tambah atau multiplier effect dari logam mineral, baik itu tembaga, emas, perak, di dalam negeri. Ini jumlahnya masif,” ujarnya (Kompas.id, 17/3/2025).

Ketua Indonesia Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menuturkan, pertambangan emas masih terbilang prospektif, meskipun dalam hal eksplorasi relatif panjang. Selain itu, produk emas pun bisa berkembang tanpa harus langsung diekspor.

”Emas masih potensial dan masih prospek. Selain itu, emas juga bisa untuk mem-backup devisa,” ucapnya.

Di sisi lain, pertambangan tanpa izin, termasuk pada emas juga masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Bagaimanapun, kata Singgih, pertambangan ilegal tidak bisa dibenarkan dan mesti diberantas. Dampak kerusakan lingkungan bisa meningkat signifikan jika praktik tersebut masih banyak terjadi.

 

(MM)